Jumat, 21 September 2012

Temuan Satelit WMAP

"Menakjubkan", "Monumental", adalah kata-kata yang tercetus pada Februari 2003 tersebut dari para pakar Astrophysicists tatkala menyaksikan perolehan data-data yang dikumpulkan dan dikirimkan oleh satelit terbaru mereka. Satelit WMAP (Wilkinson Microwave Anisotropy Probe), mengambil nama penemunya kosmologis David Wilkinson, dan diluncurkan tahun 2001, telah memberi para ilmuwan sebuah keakuratan yang tak terduga, foto alam semesta awal yang amat detail dan akurat dari jejak massa yang telah berusia 380.000 tahun. Energi kolosal luar biasa yang ditinggalkan oleh dentuman awal yang asli dihasilkan oleh pembentukkan bintang dan galaksi tersebut telah menyebar ke seluruh arah alam semesta selama miliaran tahun. Saat ini, semua itu akhirnya dapat terekam ke dalam media film selulosa dengan detail yang amat menakjubkan melalui satelit WMAP, dan menghasilkan sebuah peta yang mengagumkan yang belum pernah terjadi sebelumnya, sebuah foto bentangan alam semesta berupa radiasi gelombang mikro dengan detail yang amat menggetarkan yang terbentuk dari dentuman bigbang itu sendiri, yang disebut "Gema Penciptaan" oleh majalah Time. Dan sejak itu telah membuat para Astronom memandang alam semesta dengan cara yang tidak lagi sama seperti sebelumnya.

Temuan satelit WMAP tersebut telah menciptakan suatu "peralihan dunia kosmologi dari spekulasi menuju ilmu pengetahuan yang presisi", demikian kata John Bahcall dari Institute for Advanced Study of Princeton. Untuk pertama kalinya pula, data yang melimpah dari periode awal sejarah alam semesta ini telah memungkinkan para kosmolog menjawab secara akurat segala pertanyaan-pertanyaan yang paling purba, pertanyaan-pertanyaan paling penasaran yang telah membingungkan manusia sejak dulu kala ketika pertama kali terpesona memandang indahnya cahaya langit malam. Berapakah usia alam semesta? Atau bagaimana diciptakannya? Atau bagaimana nasib alam semesta ini di masa depan?

sumber foto: http://it.wikipedia.org/wiki/File:Baby_Universe.jpg



Sabtu, 15 September 2012

Alam Semesta Hanyalah Buih?

Dewasa ini, perubahan terbaru banyak terjadi di hampir berbagai bidang kehidupan --dunia ilmu pengetahuan-- sebagai hasil dari hadirnya jaman baru yang menghasilkan berbagai perangkat teknologi canggih yang mampu merambah hingga ke luar angkasa. Jika Mitologi kuno bergantung kepada perkataan Para Bijak untuk mendefinisikan asal-usul dunia, maka jaman ini para ilmuwan telah menyetorkan pembuktiannya melalui berbagai penemuan mereka: batere satelit luar angkasa, sinar laser, detektor gelombang gravitasi, interferometer, highspeed super computer, internet, pemahaman tentang alam semesta yang terus berevolusi, dan berbagai penjelasan terkini yang terus mematangkan kita atas pemahaman tentang penciptaan.

Segala apa yang secara bertahap hadir dari bukti-bukti tersebut, merupakan sintesa penjelasan yang sangat luar biasa atas dua kutub pertentangan dari Mitologi-mitologi tersebut. Mungkin para ilmuwan masih dianggap berspekulasi, Awal Mula itu terjadi berulang kali dalam samudra Nirwana tanpa akhir. Dalam penggambaran yang baru ini, alam semesta kita bisa disepadankan dengan buih busa yang terapung dalam "samudra" yang lebih besar, dengan buih-buih baru yang selalu terbentuk sepanjang masa. Menurut teori ini, alam semesta, seperti buih yang membentuk dalam air yang mendidih, dalam pembentukan yang terjadi terus-menerus, terapung dalam ruang yang selalu meluas terus menerus, Nirwana, hiperspace yang memiliki belasan dimensi. Semakin banyak fisikawan yang menganjurkan bahwa alam semesta kita bukan lahir terbentuk dari suatu bencana ledakan, big bang, yang mungkin selalu ada sepanjang masa sebagai bagian dari eksistensi samudra alam semesta sepanjang jaman. Bahkan mungkin saja, saat anda sedang membaca tulisan ini, big bang sedang terjadi di bagian lain dari samudra alam semesta yang maha luas ini.

Para astronom dan fisikawan di seluruh dunia saat ini masih berspekulasi perihal seperti apa bentuk konstelasi alam semesta kita yang paralel ini, hukum seperti apa yang mengaturnya, bagaimana mereka terbentuk, dan bagaimana pula proses kepunahannya. Bisa juga alam semesta yang paralel ini gabug [tidak bereproduksi lagi, alias mandul], dan tanpa unsur dasar kehidupan yang tetap. Ataupun bisa saja mereka sama seperti galaksi yang kita tempati ini, terpisah oleh satu putaran kuantum yang membuat samudra alam semesta tersebut memisah dari galaksi yang kita tempati ini. Dan sebagian kecil fisikawan berspekulasi bahwa mungkin suatu hari nanti, jika kehidupan di galaksi yang kita diami ini sudah tak bisa dipertahankan lagi karena sudah semakin tua dan mulai menjadi dingin [karena matahari mulai meredup energinya], kita mungkin bisa pergi meninggalkan galaksi ini menuju ke galaksi lain.

Bahan-bahan bukti yang melahirkan teori ini adalah data-data yang begitu banyaknya yang dikirimkan oleh begitu banyaknya satelit luar angkasa yang telah kita kirim dan merekam serta memotret bukti-bukti dan sisa-sisa serpihan dari jaman ketika big bang itu terjadi. Yang mengejutkan, para ilmuwan kini mulai sepakat tentang apa yang terjadi sekitar 380.000 tahun setelah big bang itu, ketika apa yang disebut "afterglow" itu; menyisakan serpihannya di alam semesta. Mungkin bukti yang paling meyakinkan tentang 'Penciptaan' itu adalah Foto radiasi dari sisa big bang tersebut yang berhasil diperoleh melalui alat baru yang dinamakan satelit WMAP.

Mencari Kehidupan Lain di Luar Bumi

Debu di Alam Semesta
Manusia sudah lama penasaran atas "kesendiriannya" di alam semesta ini. Filsuf Metrodorus (330SM-277SM) pernah mengatakan, "Meyakini Bumi sebagai satu-satunya tempat peradaban di jagat raya sesungguhnya sama absurdnya dengan menyatakan hanya ada satu benih yang tumbuh dari sejumlah benih yang ditabur."

Bumi ibaratnya adalah debu di alam semesta. Bayangkan, Bumi hanya salah satu planet dari sebuah sistem tata surya, sementara Matahari sebagai pusatnya hanya salah satu bintang dari 400 miliar bintang di Galaksi Bima Sakti. Selanjutnya, Galaksi Bima Sakti hanya satu dari 100 miliar galaksi. Dengan demikian, kemungkinan adanya makhluk lain sesungguhnya besar secara statistik.

Tidaklah mengherankan jika berbagai upaya terus dilakukan untuk membuktikan kehadiranmakhluk cerdas lain ini. Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), misalnya, tahun 1992 memasang teleskop radio raksasa di sejumlah observatorium, dari padang gurun Mojave di California hingga hutan basah di Puerto Rico.

Dengan bantuan superkomputer, teleskop radio ini tidak hanya memindai pola-pola gelombang elektromagnetik seperti gelombang radio dan televisi di alam semesta, tetapi juga menganalisisnya. Meski pendanaan proyek ini dihentikan Kongres AS setahun kemudian, lembaga nirlaba SETI (The Search for Extra-Terrestrial Intelligence) Institut di California melanjutkan proyek ini dengan dana dari pihak swasta. Disebut Phoenix, proyek ini melanjutkan upaya pencarian makhluk cerdas lain dengan mengamati sekitar 1.000 bintang mirip matahari.

Lepas dari segala kontroversinya, spekulasi kehadiran kehidupaan lain di luar bumi memang selalu menarik. Seperti diberitakan BBC News, tak kurang dari Universitas Harvard-dengan proyeknya, Origin of Life-- dan proyek serupa di Universitas Arizona, juga Universitas Washington dan Universitas College London, terlibat dalam upaya pencarian ini. Bahkan, sebuah simposium tentang SETI diselenggarakan Universitas College London tanggal 11 November 2011.


Tiga Pilar
Berbagai peralatan baru dan juga data yang lebih canggih tampaknya akan membawa para ilmuwan makin dekat ke jawaban pertanyaan mereka sekian lama. Menurut Harvard Gazette, ada tiga pilar yang bakal membuat penelitian ini lebih signifikan.

Pertama, misi Kepler. Diluncurkan tahun 2009, teleskop antariksa ini ditujukan untuk mengobservasi planet-planet lain yang mirip Bumi di sekitar bintang-bintang. Syaratnya planet tersebut berada di kawasan yang disebut Zona Goldilock: tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh dari bintang sumber energinya sehingga memungkinkan kehidupan tumbuh dan berkembang. Menurut Dimitar Sasselov, salah eorang peneliti dalam misi ilmiah Kepler, sampai Juni 2010 Kepler telah menemukan 700 planet kandidat.

Pilar Kedua adalah teleskop antariksa James Webb. Rencananya akan diluncurkan tahun 2014, teleskop yang berdiameter 6,5 meter ini diharapkan cukup besar untuk memudahkan para ilmuwan mengamati planet-planet yang ditemukan Kepler. Begitu canggihnya teleskop ini sehingga letusan gunung api dengan kekuatan 10-100 kali letusan Gunung Pinatubo di Filipina tahun 1991 juga dapat diteliti. Seperti diketahui, kegiatan gunung api dan lempeng tektonik adalah salah satu proses geologi yang penting untuk mendukung hadirnya kehidupan.


Senyawa di atmosfer
Terakhir (Pilar Ketiga) adalah peningkatan kemampuan para peneliti untuk membaca atmosfer planet di seputar bintang-bintang.

Seperti yang pernah didemonstrasikan profesor astronomi dari Harvard, David Charbonneau, dan timnya, mereka kini mampu mengukur cahaya yang datang dari bintang saat planet melintas di depannya (satelit).

Ilmuwan menggunakan spektograf untuk mengukur pendar cahaya bintang di atmosfer. Alat ini memisahkan cahaya menjadi gelombang dan warna. Karena setiap senyawa memiliki gelombang dan warna yang khas, maka ilmuwan bisa menentukan kandungan atmosfer di planet tersebut.

"Kehadiran senyawa tertentu akan mengindikasikan adanya kehidupan.Bisa karena senyawa itu dibutuhkan kehidupan  atau senyawa itu muncul karena adanya kehidupan." kata Lisa Kaltenegger, astronom di Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics.

Salah satu yang paling dicari tentu saja adalah oksigen, senyawa yang dikeluarkan oleh mikroba dan tanaman dalam fotosintesis. Senyawa lain yang juga menjadi penanda kehidupan adalah Metana, Karbon Monoksida, dan Nitrogen Oksida, yang diproduksi oleh bakteri. "Air pun termasuk kita cari karena uap air termasuk penanda penting kehidupan di bumi." kata Kaltenegger menambahkan.

Paralel dengan penelitian jagat raya, para peneliti di Proyek Origin of Life juga meneliti di laboratorium untuk memahami asal-usul kehidupan. "Kami tengah mencoba memahami bagaimana materi genetik yang primitif mereplikasikan diri," kata Jack Szoztak, profesor genetik peraih Hadiah Nobel dari Fakultas Kedokteran Harvard.




Minggu, 09 September 2012

Mitologi Penciptaan

Michio Kaku kemudian menemukan bukti bahwa ide semacam ini terdapat hampir di banyak lintas budaya lainnya di dunia. Dalam mitologi Cina, misalnya, di mana di pahami bahwa pada zaman Awal mula, kosmos ini serupa telur. Dewa P'an Ku yang masih bayi tinggal hampir sepanjang masa di dalam telur itu, yang mengapung dalam samudra chaos yang tanpa bentuk. Ketika akhirnya telur itu menetas, P'an Ku tumbuh menjadi amat besar sekali, dengan pembesaran lebih dari sepuluh feet per hari, sehingga setengah separuh keatasnya menjadi langit dan separuh ke bawahnya menjadi bumi. Setelah 18.000 tahun, ia mati karena meletus untuk menjadi dunia yang kita huni saat ini: darahnya mengalir menjadi sungai-sungai, matanya menjadi bulan dan matahari, dan suaranya menjadi gelegar halilintar.

Dalam banyak hal, mitos semacam P'an Ku merupakan kisah-kisah yang terdapat di banyak Agama dan mitologi kuno, bahwa alam semesta hadir menjadi nyata melalui proses penciptaan (creatio ex nihilo/ created from nothing/ diciptakan dari ketiadaan). Dalam mitologi Yunani, alam semesta berawal dari keadaan chaos (ternyata, kata 'chaos' berasal dari bahasa Yunani yang berarti "abyss", celah tanpa ujung). Keabstrakan ini sering pula diibaratkan/digambarkan seperti samudra, seperti pada mitologi Babilonia dan Jepang. Demikian juga dengan mitologi Mesir Kuno, di mana dewa matahari Ra keluar dari telur chaos yang mengapung tersebut. Dalam mitologi bangsa Polinesia, telur semesta dikenal dalam bentuk tempurung kelapa. Suku Maya mempercayai mitologi serupa dalam beberapa variasi, alam semesta memang dilahirkan namun musnah setelah 5000 tahun, dan dilahirkan lagi untuk kemudian musnah kembali, demikian terus berulang-ulang dalam putaran tanpa akhir.

Pendapat creatio ex nihilo ini berbeda kontras dengan paham kosmoslogi Budhisme dan sebagian Hinduisme. Dalam mitologi mereka, alam semesta ada tanpa akhir, tepatnya tanpa awal ataupun akhir. Dikenal ada beberapa eksistensi, di mana yang tertinggi adalah Nirwana, yang bersifat abadi dan hanya dapat dicapai melalui meditasi murni. Dalam kitab Hindu Mahapurana tertulis, "Jika Tuhan menciptakan dunia, di manakah Ia berada sebelum Penciptaan?... ketahuilah bahwa dunia tidak diciptakan, sebagaimana waktu, adalah tanpa awal dan akhir."

Berbagai mitologi ini saling bertentangan satu dengan yang lainnya, tanpa ada jalan keluar di antara mereka. Keduanya sama-sama eksklusif: baik yang berpendapat bahwa alam semesta diciptakan, ataupun tak diciptakan. Yang jelas tak ada pendapat penengahnya.