Sabtu, 15 September 2012

Alam Semesta Hanyalah Buih?

Dewasa ini, perubahan terbaru banyak terjadi di hampir berbagai bidang kehidupan --dunia ilmu pengetahuan-- sebagai hasil dari hadirnya jaman baru yang menghasilkan berbagai perangkat teknologi canggih yang mampu merambah hingga ke luar angkasa. Jika Mitologi kuno bergantung kepada perkataan Para Bijak untuk mendefinisikan asal-usul dunia, maka jaman ini para ilmuwan telah menyetorkan pembuktiannya melalui berbagai penemuan mereka: batere satelit luar angkasa, sinar laser, detektor gelombang gravitasi, interferometer, highspeed super computer, internet, pemahaman tentang alam semesta yang terus berevolusi, dan berbagai penjelasan terkini yang terus mematangkan kita atas pemahaman tentang penciptaan.

Segala apa yang secara bertahap hadir dari bukti-bukti tersebut, merupakan sintesa penjelasan yang sangat luar biasa atas dua kutub pertentangan dari Mitologi-mitologi tersebut. Mungkin para ilmuwan masih dianggap berspekulasi, Awal Mula itu terjadi berulang kali dalam samudra Nirwana tanpa akhir. Dalam penggambaran yang baru ini, alam semesta kita bisa disepadankan dengan buih busa yang terapung dalam "samudra" yang lebih besar, dengan buih-buih baru yang selalu terbentuk sepanjang masa. Menurut teori ini, alam semesta, seperti buih yang membentuk dalam air yang mendidih, dalam pembentukan yang terjadi terus-menerus, terapung dalam ruang yang selalu meluas terus menerus, Nirwana, hiperspace yang memiliki belasan dimensi. Semakin banyak fisikawan yang menganjurkan bahwa alam semesta kita bukan lahir terbentuk dari suatu bencana ledakan, big bang, yang mungkin selalu ada sepanjang masa sebagai bagian dari eksistensi samudra alam semesta sepanjang jaman. Bahkan mungkin saja, saat anda sedang membaca tulisan ini, big bang sedang terjadi di bagian lain dari samudra alam semesta yang maha luas ini.

Para astronom dan fisikawan di seluruh dunia saat ini masih berspekulasi perihal seperti apa bentuk konstelasi alam semesta kita yang paralel ini, hukum seperti apa yang mengaturnya, bagaimana mereka terbentuk, dan bagaimana pula proses kepunahannya. Bisa juga alam semesta yang paralel ini gabug [tidak bereproduksi lagi, alias mandul], dan tanpa unsur dasar kehidupan yang tetap. Ataupun bisa saja mereka sama seperti galaksi yang kita tempati ini, terpisah oleh satu putaran kuantum yang membuat samudra alam semesta tersebut memisah dari galaksi yang kita tempati ini. Dan sebagian kecil fisikawan berspekulasi bahwa mungkin suatu hari nanti, jika kehidupan di galaksi yang kita diami ini sudah tak bisa dipertahankan lagi karena sudah semakin tua dan mulai menjadi dingin [karena matahari mulai meredup energinya], kita mungkin bisa pergi meninggalkan galaksi ini menuju ke galaksi lain.

Bahan-bahan bukti yang melahirkan teori ini adalah data-data yang begitu banyaknya yang dikirimkan oleh begitu banyaknya satelit luar angkasa yang telah kita kirim dan merekam serta memotret bukti-bukti dan sisa-sisa serpihan dari jaman ketika big bang itu terjadi. Yang mengejutkan, para ilmuwan kini mulai sepakat tentang apa yang terjadi sekitar 380.000 tahun setelah big bang itu, ketika apa yang disebut "afterglow" itu; menyisakan serpihannya di alam semesta. Mungkin bukti yang paling meyakinkan tentang 'Penciptaan' itu adalah Foto radiasi dari sisa big bang tersebut yang berhasil diperoleh melalui alat baru yang dinamakan satelit WMAP.

Mencari Kehidupan Lain di Luar Bumi

Debu di Alam Semesta
Manusia sudah lama penasaran atas "kesendiriannya" di alam semesta ini. Filsuf Metrodorus (330SM-277SM) pernah mengatakan, "Meyakini Bumi sebagai satu-satunya tempat peradaban di jagat raya sesungguhnya sama absurdnya dengan menyatakan hanya ada satu benih yang tumbuh dari sejumlah benih yang ditabur."

Bumi ibaratnya adalah debu di alam semesta. Bayangkan, Bumi hanya salah satu planet dari sebuah sistem tata surya, sementara Matahari sebagai pusatnya hanya salah satu bintang dari 400 miliar bintang di Galaksi Bima Sakti. Selanjutnya, Galaksi Bima Sakti hanya satu dari 100 miliar galaksi. Dengan demikian, kemungkinan adanya makhluk lain sesungguhnya besar secara statistik.

Tidaklah mengherankan jika berbagai upaya terus dilakukan untuk membuktikan kehadiranmakhluk cerdas lain ini. Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), misalnya, tahun 1992 memasang teleskop radio raksasa di sejumlah observatorium, dari padang gurun Mojave di California hingga hutan basah di Puerto Rico.

Dengan bantuan superkomputer, teleskop radio ini tidak hanya memindai pola-pola gelombang elektromagnetik seperti gelombang radio dan televisi di alam semesta, tetapi juga menganalisisnya. Meski pendanaan proyek ini dihentikan Kongres AS setahun kemudian, lembaga nirlaba SETI (The Search for Extra-Terrestrial Intelligence) Institut di California melanjutkan proyek ini dengan dana dari pihak swasta. Disebut Phoenix, proyek ini melanjutkan upaya pencarian makhluk cerdas lain dengan mengamati sekitar 1.000 bintang mirip matahari.

Lepas dari segala kontroversinya, spekulasi kehadiran kehidupaan lain di luar bumi memang selalu menarik. Seperti diberitakan BBC News, tak kurang dari Universitas Harvard-dengan proyeknya, Origin of Life-- dan proyek serupa di Universitas Arizona, juga Universitas Washington dan Universitas College London, terlibat dalam upaya pencarian ini. Bahkan, sebuah simposium tentang SETI diselenggarakan Universitas College London tanggal 11 November 2011.


Tiga Pilar
Berbagai peralatan baru dan juga data yang lebih canggih tampaknya akan membawa para ilmuwan makin dekat ke jawaban pertanyaan mereka sekian lama. Menurut Harvard Gazette, ada tiga pilar yang bakal membuat penelitian ini lebih signifikan.

Pertama, misi Kepler. Diluncurkan tahun 2009, teleskop antariksa ini ditujukan untuk mengobservasi planet-planet lain yang mirip Bumi di sekitar bintang-bintang. Syaratnya planet tersebut berada di kawasan yang disebut Zona Goldilock: tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh dari bintang sumber energinya sehingga memungkinkan kehidupan tumbuh dan berkembang. Menurut Dimitar Sasselov, salah eorang peneliti dalam misi ilmiah Kepler, sampai Juni 2010 Kepler telah menemukan 700 planet kandidat.

Pilar Kedua adalah teleskop antariksa James Webb. Rencananya akan diluncurkan tahun 2014, teleskop yang berdiameter 6,5 meter ini diharapkan cukup besar untuk memudahkan para ilmuwan mengamati planet-planet yang ditemukan Kepler. Begitu canggihnya teleskop ini sehingga letusan gunung api dengan kekuatan 10-100 kali letusan Gunung Pinatubo di Filipina tahun 1991 juga dapat diteliti. Seperti diketahui, kegiatan gunung api dan lempeng tektonik adalah salah satu proses geologi yang penting untuk mendukung hadirnya kehidupan.


Senyawa di atmosfer
Terakhir (Pilar Ketiga) adalah peningkatan kemampuan para peneliti untuk membaca atmosfer planet di seputar bintang-bintang.

Seperti yang pernah didemonstrasikan profesor astronomi dari Harvard, David Charbonneau, dan timnya, mereka kini mampu mengukur cahaya yang datang dari bintang saat planet melintas di depannya (satelit).

Ilmuwan menggunakan spektograf untuk mengukur pendar cahaya bintang di atmosfer. Alat ini memisahkan cahaya menjadi gelombang dan warna. Karena setiap senyawa memiliki gelombang dan warna yang khas, maka ilmuwan bisa menentukan kandungan atmosfer di planet tersebut.

"Kehadiran senyawa tertentu akan mengindikasikan adanya kehidupan.Bisa karena senyawa itu dibutuhkan kehidupan  atau senyawa itu muncul karena adanya kehidupan." kata Lisa Kaltenegger, astronom di Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics.

Salah satu yang paling dicari tentu saja adalah oksigen, senyawa yang dikeluarkan oleh mikroba dan tanaman dalam fotosintesis. Senyawa lain yang juga menjadi penanda kehidupan adalah Metana, Karbon Monoksida, dan Nitrogen Oksida, yang diproduksi oleh bakteri. "Air pun termasuk kita cari karena uap air termasuk penanda penting kehidupan di bumi." kata Kaltenegger menambahkan.

Paralel dengan penelitian jagat raya, para peneliti di Proyek Origin of Life juga meneliti di laboratorium untuk memahami asal-usul kehidupan. "Kami tengah mencoba memahami bagaimana materi genetik yang primitif mereplikasikan diri," kata Jack Szoztak, profesor genetik peraih Hadiah Nobel dari Fakultas Kedokteran Harvard.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar