Michio Kaku kemudian menemukan bukti bahwa ide semacam ini terdapat hampir di banyak lintas budaya lainnya di dunia. Dalam mitologi Cina, misalnya, di mana di pahami bahwa pada zaman Awal mula, kosmos ini serupa telur. Dewa P'an Ku yang masih bayi tinggal hampir sepanjang masa di dalam telur itu, yang mengapung dalam samudra chaos yang tanpa bentuk. Ketika akhirnya telur itu menetas, P'an Ku tumbuh menjadi amat besar sekali, dengan pembesaran lebih dari sepuluh feet per hari, sehingga setengah separuh keatasnya menjadi langit dan separuh ke bawahnya menjadi bumi. Setelah 18.000 tahun, ia mati karena meletus untuk menjadi dunia yang kita huni saat ini: darahnya mengalir menjadi sungai-sungai, matanya menjadi bulan dan matahari, dan suaranya menjadi gelegar halilintar.
Dalam banyak hal, mitos semacam P'an Ku merupakan kisah-kisah yang terdapat di banyak Agama dan mitologi kuno, bahwa alam semesta hadir menjadi nyata melalui proses penciptaan (creatio ex nihilo/ created from nothing/ diciptakan dari ketiadaan). Dalam mitologi Yunani, alam semesta berawal dari keadaan chaos (ternyata, kata 'chaos' berasal dari bahasa Yunani yang berarti "abyss", celah tanpa ujung). Keabstrakan ini sering pula diibaratkan/digambarkan seperti samudra, seperti pada mitologi Babilonia dan Jepang. Demikian juga dengan mitologi Mesir Kuno, di mana dewa matahari Ra keluar dari telur chaos yang mengapung tersebut. Dalam mitologi bangsa Polinesia, telur semesta dikenal dalam bentuk tempurung kelapa. Suku Maya mempercayai mitologi serupa dalam beberapa variasi, alam semesta memang dilahirkan namun musnah setelah 5000 tahun, dan dilahirkan lagi untuk kemudian musnah kembali, demikian terus berulang-ulang dalam putaran tanpa akhir.
Pendapat creatio ex nihilo ini berbeda kontras dengan paham kosmoslogi Budhisme dan sebagian Hinduisme. Dalam mitologi mereka, alam semesta ada tanpa akhir, tepatnya tanpa awal ataupun akhir. Dikenal ada beberapa eksistensi, di mana yang tertinggi adalah Nirwana, yang bersifat abadi dan hanya dapat dicapai melalui meditasi murni. Dalam kitab Hindu Mahapurana tertulis, "Jika Tuhan menciptakan dunia, di manakah Ia berada sebelum Penciptaan?... ketahuilah bahwa dunia tidak diciptakan, sebagaimana waktu, adalah tanpa awal dan akhir."
Berbagai mitologi ini saling bertentangan satu dengan yang lainnya, tanpa ada jalan keluar di antara mereka. Keduanya sama-sama eksklusif: baik yang berpendapat bahwa alam semesta diciptakan, ataupun tak diciptakan. Yang jelas tak ada pendapat penengahnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar